Menurut Bianca, Sean itu anti sosial. Ia
sering mengurung diri dalam kamarnya, menyalakan pemutar musiknya keras keras
atau meliuk-liukan suara gitar listriknya tanpa tenggang rasa. Telah seminggu
aku tinggal di sini baru dua kali aku melihat Sean, itu pun hanya berupa
kelebatan.
Sore itu aku tengah kepayahan membawa setumpuk
barang dan tanpa sengaja kakiku tersandung batu yang membuat tubuhku
terpelanting dan barang-barang yang ada dalam dekapanku berhamburan. Sean
menghampiriku, alih alih menolongku ia hanya menyingkirkan batu yang telah
menghalangi langkahku. Lalu ia kembali ke teras kamarnya, memangku gitarnya dan
mulai memainkannya. Aku terpana atas kepeduliannya yang aneh.
Bila melihat sekilas, sosok Sean mengingatkanku akan seorang dewa. Penampilannya, gesturnya bahkan suaranya ketika ia menyanyi sangat mirip dengannya.
Bila melihat sekilas, sosok Sean mengingatkanku akan seorang dewa. Penampilannya, gesturnya bahkan suaranya ketika ia menyanyi sangat mirip dengannya.
“Sean, itu tidak kidal. Namun ia belajar
memainkan gitar secara kidal.” Bianca menunjuk kamar Sean dengan dagunya.

Comments
Post a Comment